Selasa, 30 Juni 2015

Bagaimanakah Rasa Sakit itu?



Assalamuallaikum bertemu lagi bersama saya dengan artikel – artikel yang bermanfaat buat para pembaca. Sementara kita membicarakan kesehatan, mari kita lihat rasa sakit. Misalnya jika Anda kebetulan bertemu John Brown setelah seselama satu jam ia berada di ruang praktek dokter giginya dan Anda berkata, “Rasa sakit itu nikmat, bukan?” John akan mengira Anda agak sinting. Demikian pula, setelah jari – jari Anda melepuh terkena kompor di dapur, Anda tentu tidak mengatakan bahwa rasa sakit itu menyenangkan.
Tetapi mari kita andaikan Anda tidak merasa sakit sedikit pun. Anda bisa tanpa sadar bersandar pada kompor listrik selama dua puluh menit sampai Anda dengan santai berpaling ke tangan Anda, yang sudah menjadi tongkat hitam yang terbakar hangus. Jika secara fisik Anda tidak merasa sakit, ketika pulang dari kerja lalu membungkuk akan memakai sandal, Anda mungkin berkata dalam hari, “Wah! Kakiku yang sebelah kiri hilang. Pasti terpotong di suatu tempat.
Apakah terjepit lift atau digigit anjing Doberman tetangga sebalah? Pantas tadi siang aku merasa agak aneh sewaktu bejalan.”
Rasa sakit fisik memiliki segi positif yang sahih. Rasa sakit senantiasa memberi kita umpan balik tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Betapa memalukannya jika di tengah – tengah romantisnya acara makan malam yang diterangi cahaya lilin kita berkata, “saya tidak bisa menikmati hidangan pencuci mulut, Sayang. Lidahku baru saja tergigit sampai putus. “(tentu saja, penjelasannya dalam bahasa isyarat.)
Jika kita makan terlalu banyak atau kurang tidur atau bagaian tubuh kita terlalu lelah atau ada yang patah dan butuh istirahat, system alarm otomatis kita yang mengagumkan akan memberi tahu kita.
Rasa sakit emosional juga bekerja dengan cara yang sama. Jikga kita terluka secara emosional, berarti kita erlu mengubah pendekatan kita atau melihat sesuatu dari sudut pandang lain. Jika kita merasa disakiti, dikecewakan, atau ditinggalkan oleh sesorang dalam hidup kita, pesannya mungkin, “Cintailah mereka yang ada dalam hidup Anda tanpa pamrih. Terimalah mereka apa adanya dan terimalah apa yang ingin meraka berikan tanpa prasangka apa pun.” Kemungkinan lain, pesannya adalah, “Jangan biarkan tindakan orang lain menghancurkan harga diri Anda.”
Jika rumah Anda terbakar atau seseorang mencuri mobil Anda, Anda mungkin akan merasa sedih dan marah. Ini normal dan manusiawi. Jika Anda memilih belajar dari peristiwa itu Anda mungkin akan menyadari bahwa Anda bisa hidup bahagia tanpa terikat dengan benda-benda yang begitu Anda sayangi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang-orang sukses belajar dari pengalaman-pengalaman seperti itu dan menyesuaikan nilai-nilai mereka sehigga seandainya peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan bener-benar terjadi, dampaknya tidak terlalu menyakitkan.

Rangkuman
Rasa sakit menyebabkan kita berkontemplasi: mengubah haluan. Rasa itu mendesak kita untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jika kita tetap melakukan kebodohan yang sama, kita akan terus menerus merasa sakit baik emosional maupun fisik. Kita mungkin saja berkata, “seharusnya hal itu tidak menyakitkan, aku tidak mau hal itu menyakitkanku,” tetapi kita toh tetap saja merasa sakit. Beberapa orang berusaha agar tetap sakit dua puluh empat jam sehari, tiga ratus enam puluh lima hari setahun. Meraka tidak pernah menyadari bahwa sudah waktunya mengangkat tangan mereka dari kompor yang menyala.

Unknown

About Unknown

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.