Assalamuallaikum
bertemu lagi bersama saya dengan artikel – artikel yang bermanfaat buat para
pembaca. Sementara kita membicarakan kesehatan, mari kita lihat rasa sakit. Misalnya
jika Anda kebetulan bertemu John Brown setelah seselama satu jam ia berada di
ruang praktek dokter giginya dan Anda berkata, “Rasa sakit itu nikmat, bukan?”
John akan mengira Anda agak sinting. Demikian pula, setelah jari – jari Anda
melepuh terkena kompor di dapur, Anda tentu tidak mengatakan bahwa rasa sakit
itu menyenangkan.
Tetapi mari kita
andaikan Anda tidak merasa sakit sedikit pun. Anda bisa tanpa sadar bersandar
pada kompor listrik selama dua puluh menit sampai Anda dengan santai berpaling
ke tangan Anda, yang sudah menjadi tongkat hitam yang terbakar hangus. Jika
secara fisik Anda tidak merasa sakit, ketika pulang dari kerja lalu membungkuk
akan memakai sandal, Anda mungkin berkata dalam hari, “Wah! Kakiku yang sebelah
kiri hilang. Pasti terpotong di suatu tempat.
Apakah terjepit lift
atau digigit anjing Doberman tetangga sebalah? Pantas tadi siang aku merasa
agak aneh sewaktu bejalan.”
Rasa sakit fisik
memiliki segi positif yang sahih. Rasa sakit senantiasa memberi kita umpan
balik tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan. Betapa memalukannya
jika di tengah – tengah romantisnya acara makan malam yang diterangi cahaya
lilin kita berkata, “saya tidak bisa menikmati hidangan pencuci mulut, Sayang.
Lidahku baru saja tergigit sampai putus. “(tentu saja, penjelasannya dalam
bahasa isyarat.)
Jika kita makan terlalu
banyak atau kurang tidur atau bagaian tubuh kita terlalu lelah atau ada yang
patah dan butuh istirahat, system alarm otomatis kita yang mengagumkan akan
memberi tahu kita.
Rasa sakit emosional
juga bekerja dengan cara yang sama. Jikga kita terluka secara emosional,
berarti kita erlu mengubah pendekatan kita atau melihat sesuatu dari sudut
pandang lain. Jika kita merasa disakiti, dikecewakan, atau ditinggalkan oleh
sesorang dalam hidup kita, pesannya mungkin, “Cintailah mereka yang ada dalam
hidup Anda tanpa pamrih. Terimalah mereka apa adanya dan terimalah apa yang
ingin meraka berikan tanpa prasangka apa pun.” Kemungkinan lain, pesannya
adalah, “Jangan biarkan tindakan orang lain menghancurkan harga diri Anda.”
Jika rumah Anda
terbakar atau seseorang mencuri mobil Anda, Anda mungkin akan merasa sedih dan
marah. Ini normal dan manusiawi. Jika Anda memilih belajar dari peristiwa itu
Anda mungkin akan menyadari bahwa Anda bisa hidup bahagia tanpa terikat dengan
benda-benda yang begitu Anda sayangi. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa
orang-orang sukses belajar dari pengalaman-pengalaman seperti itu dan
menyesuaikan nilai-nilai mereka sehigga seandainya peristiwa-peristiwa yang
tidak diharapkan bener-benar terjadi, dampaknya tidak terlalu menyakitkan.
Rangkuman
Rasa sakit menyebabkan
kita berkontemplasi: mengubah haluan. Rasa itu mendesak kita untuk melihat
segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Jika kita tetap melakukan
kebodohan yang sama, kita akan terus menerus merasa sakit baik emosional maupun
fisik. Kita mungkin saja berkata, “seharusnya hal itu tidak menyakitkan, aku
tidak mau hal itu menyakitkanku,” tetapi kita toh tetap saja merasa sakit.
Beberapa orang berusaha agar tetap sakit dua puluh empat jam sehari, tiga ratus
enam puluh lima hari setahun. Meraka tidak pernah menyadari bahwa sudah
waktunya mengangkat tangan mereka dari kompor yang menyala.
